header-int

Menggali Pangan dan Gizi dari Sepetak Sawah Minapadi

Sabtu, 18 Mar 2017, 17:34:29 WIB - 142 View
Share
Menggali Pangan dan Gizi dari Sepetak Sawah Minapadi

Budidaya perikanan air tawar sistem minapadi, selain dapat padi juga bisa panen ikan. Padi sebagai penyumbang pangan karbohidrat dan ikan sebagai penyumbang gizi berupa protein hewani ternyata bisa digali dari sepetak lahan sawah. Perikanan Budidaya saat ini menjadi tumpuan penting dalam menopang pembangunan perikanan nasional seiring dengan fenomena meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap sumber pangan dan gizi yang aman bagi kesehatan. Hal ini menjadi sebuah tantangan besar bagi pemerintah dalam mewujudkan Perikanan Budidaya sebagai ujung tombak dalam menggerakan perekonomian nasional dan ketahanan pangan masyarakat. Disamping itu Indonesia saat ini dihadapkan pada sebuah tantangan besar yaitu dalam menghadapi persaingan perdagangan bebas di level regional ASEAN atau AseanEconomic Community(AEC).

Salah satu solusi dalam menghadapi tantangan tersebut melalui pengembangan usaha budidaya perikanan yang terintegrasi dengan tanaman padi di sawah atau minapadi. Budidaya minapadi adalah budidaya ikan dan padi dalam satu hamparan sawah. Minapadi dapat meningkatkan produktivitas lahan sawah karena selain tidak mengurangi hasil padi, juga dapat menghasilkan ikan/udang. Budidaya minapadi dilakukan masyarakat sejak lama walaupun masih menggunakan teknologi sangat sederhana hanya terbatas pada kegiatan tahapan pendederan. Teknik budidaya minapadi untuk menghasilkan benih ikan umumnya menerapkan sistim tumpang sari dan sistim penyelang. Sedangkan teknik budidaya minapadi untuk menghasilkan ikan konsumsi dilakukan dengan sistim tumpang sari dan palawija. Dalam persiapan lahan, tanah diolah dengan sempurna sampai kedalaman 15-20 cm sampai perbandingan lumpur dan air 1 : 1. Pematang dibuat padat dan kokoh agar tidak mudah bocor dan longsor. Uukuran lebar dasar pematang 40-50 cm, lebar atas 30-40 cm dan tinggi 30-40 cm. Pematang dibersihkan dari gulma agar tidak menjadi sarang hama padi maupun ikan. Lapisi pematang dengan lumpur secara berkala agar bersih dan rapi. Setelah kering, lumpur pelapis pematang akan mengeras sehingga gulma tidak mudah tumbuh. Caren dibuat sebelum pengolahan tanah dimulai diukur secara baik sehingga kedalamannnya sesuai yang dikehendaki karena fungsi caren sebagai media hidup ikan, tempat memberi makan ikan, memudahkan ikan bergerak ke seluruh petakan serta memudahkan panen ikan. Beberapa persyaratan wadah untuk pengembangan minapadi antara lain: wadah pembesaran berupa petakan sawah yang mampu menampung air, wadah dapat dikeringkan dengan sempurna, pintu air masuk dan keluar terpisah, dasar caren miring ke arah saluran pengeluaran, luasan petakan sawah minimal 500 m2, pematang harus kuat untuk menahan air minimal 30 cm dari pelataran sawah dengan lebar minimal 50 cm;, lebar caren minimum 1,5 m dengan kedalaman dari pelataran minimum 0,5m, ukuran kobakan minimum 1,5 m x 1,5 m x 0,5 m. Jenis ikan yang dibudidayakan harus memenuhi kriteria benih bermutu dan mempunyai nilai ekonomis. Beberapa jenis komoditas yang dapat dikembangan dalam minapadi adalah ikan mas, nila, dan lele.Benih ikan mas kelas benih sebar tersebut memiliki ciri-ciri yaitu bentuk tubuh tebal, gemuk dan kepala tidak besar, bentuk mata bulat, dengan tingkah laku berenang bergerombol dan aktif menyongsong arus. Berdasarkan perkembangan terakhir, telah dirilis varietas ikan nila unggul antara lain varietas : nirwana, jatimbulan, best, sultana, gesit, JICA dan nila merah larasati.

Benih ikan nila yang digunakan sesuai dengan SNI Nomor 6140 : 2009 Benih ikan nila hitam (OreochromisniloticusBleeker) kelas benih sebar. Benih ikan nila kelas benih sebar tersebut memiliki ciri-ciri yaitu bentuk tubuh agak pipih, dengan tingkah laku bergerombol di permukaan air, aktif melawan arus air dan bereaksi positif terhadap cahaya dan kejutan. Untuk ikan lele (Clarias sp) merupakan ikan yang sudah lama berkembang di Indonesia dan digemari oleh segala lapisan masyarakat sebagai sumber protein. Ikan lele merupakan salah satu jenis ikan yang sanngup hidup dalam kepadatan tinggi di lahan dan sumber air yang terbatas. Budidaya lele berkembang pesat dikarenakan 1) dapat dibudidayakan dilahan dan sumber air yang terbatas dengan padat tebar tinggi, 2) teknologi budidaya relatif mudah dikuasai oleh masyarakat, 3) pemasarannya relatif mudah, 4) modal usaha yang dibutuhkan relatif rendah serta 5) waktu usaha yang dibutuhkan tidak terlalu lama. Ikan lele bersifat nokturnal yaitu aktif bergerak mencari makan pada malam hari. Pada siang hari biasanya berdiam diri dan berlindung di tempat-tempat gelap. Ikan lele dilengkapi pernafasan tambahan berupa modifikasi dari busur insangnya dan bernafas dengan bantuan labirin yang berbentuk seperti bunga karang di bawah badannya, fungsinya sebagai penyerap oksigen yang berasal dari udara sekitarnya. Maka dalam keadaan tertentu ikan lele dapat beberapa jam berdiam dipermukaan tanah yang lembab dan sedikit kadar oksigennya (Rachmatun, 2007). Minapadi sistem penyelang, menghasilkan ukuran benih seperti : nila, mas, tawes, nilam, lele, gurami, patin dan ikan lainnya.

Langkah kerjanya meliputi persiapan lahan dengan cara membabat jerami sampai pangkalnya dan akar yang tersisa dibenamkan; Perbaikan pematang untuk mencegah kebocoran air; Perbaikan saluran pemasukan dan pengeluaran serta dilengkapi dengan saringan yang terbuat dari kawat, bambu atau jaring; Pengolahan dan pembalikan tanah; Pembuatan caren keliling dengan lebar 40-100 cm, kedalaman 60-100 cm dan caren penampungan (kobakan panen) dengan ukuran 1x2 m dan kedalaman 50-75 cm. Pupuk yang digunakan adalah pupuk organik dengan dosis 150-500 gram/m2 dan kapur dengan dosis 50 gram/m2 yang diberikan setelah petakan digenangi air setinggi 30-40 cm dan suplai air terus-menerus. Benih ikan yang ditebar sebanyak 100.000 ekor/ha/musim tanam dengan ukuran tebar 1-3 cm. Pakan tambahan untuk ikan berupa pelet halus sebanyak 20% dari bobot total ikan, dengan frekuensi 2 kali sehari; Ketinggian air di pelataran sawah selama masa pemeliharaan adalah 30-40 cm; Balikkan tumpukan jerami 3 (tiga) hari sekali untuk mempercepat proses pembusukan dan pertumbuhan pakan alami; Monitoring kualitas air dilakukan agar kualitas air sesuai dengan standar pemeliharaan ikan. Panen dilakukan 2 – 3 hari sebelum tanam padi; Dengan sistim ini diperkirakan dapat memproduksi benih berukuran 3-5 cm dengan masa pemeliharaan 20 hari sebesar 60.000-80.000 ekor/ha/musim tanam; Usaha minapadi dengan sistim penyelang ini dapat juga menghasilkan benih untuk dibesarkan di Karamba Jaring Apung (KJA), atau dijadikan olahan goreng kering yang dikenal dengan “baby fish”. Minapadi sistim tumpang sari Persiapan lahan dengan langkah kerja sebagai berikut : Sawah dipersiapkan sesuai dengan kebutuhan penanaman padi dan pemeliharaan ikan; Perbaikan saluran pemasukan dan pengeluaran serta dilengkapi dengan saringan yang terbuat dari kawat, bambu atau jaring; Pengolahan dan pembalikan tanah; Pembuatan caren keliling dengan lebar 40-100 cm, kedalaman 60-100 cm dan caren penampungan (kobakan panen) dengan ukuran 1x2 m dan kedalaman 50-75 cm. Dengan sistim ini caren dapat dibuat kolam dalam dengan ukuran 0,8-1 meter. Pemupukan dasar dan susulan dengan dosis 50% dari dosis pemupukan yang biasa digunakan dalam kondisi sawah masih berlumpur. Padat penebaran dan ukuran benih ikan disesuaikan dengan tujuan penanaman, penebaran pertama benih berukuran 5-8 cm (fingerling) dengan padat penebaran 5-10 ekor/m2 dilakukan setelah penanaman bibit padi berumur ± 7 hari. Pakan tambahan berupa pelet halus dengan dosis maks.3% dari berat bobot biomassa; Monitoring kualitas air dilakukan agar kualitas air sesuai dengan standar pemeliharaan ikan. Panen ikan 1 minggu sebelum panen padi dilakukan pada pagi atau sore hari pada saat suhu udara rendah; Setelah masa pemeliharaan selama 90 hari dihasilkan ikan berukuran minimal 100 g/ekor sebanyak 30.000 - 60.000 ekor atau minimal 3-6 ton.

Minapadi Sistim Palawija meliputi persiapan lahan, penebaran benih, pemeliharaan, panen serta monitoring kualitas air sama seperti sistim tumpang sari, perbedaan dalam sistim ini pemeliharaan ikan tidak dilakukan bersama padi. Model tanam padi yang digunakan untuk budidaya minapadi antara lain : Model jajar legowo, Model ini memiliki pola tanam padi dengan perbandingan 2 : 1, 4 : 1 dan 6 : 1. Artinya, setiap dua, empat dan enam baris padi yang ditanam di petakan sawah, diberikan satu baris kosong (tanpa benih padi). Tujuannya adalah selain sebagai ruang untuk pemeliharaan ikan, juga agar sinar matahari dapat langsung mengenai petakan sawah sehingga dapat meningkatkan produksi padi sebesar 12–22% dan memberikan ruang yang luas untuk pemeliharaan ikan. Minapadi Kolam Dalam (Minakodal). Modal kolam dalam adalah model tanam padi jajar legowo atau tegel yang dilengkapi parit/caren dalam dengan ukuran caren lebar minimal 1 meter dan kedalaman 0,8-1 meter. Dengan menggunakan model kolam dalam, panen padi dapat meningkat hingga 15 % per satuan luas petakan sawah. Pengelolaan kualitas air untuk produksi ikan konsumsi dengan sistim minapadi harus selalu diperhatikan parameter kualitas air yang diukur sesuai kebutuhan dan pemantauan kesehatan ikan minimal 10 hari sekali.

Data hasil monitoring dicatat dan disimpan secara baik sebagai dasar dalam pengendalian kualitas air, kesehatan dan pertumbuhan ikan. Pengamatan pematang sawah juga harus dilakukan untuk menghindari adanya kebocoran pada petakan lahan sawah. Kisaran parameter kualitas air budidaya untuk minapadi antara lain suhu 25-31 derajat celsius, keasaman (pH) 5-8, Oksigen terlarut (DO) >3 mg/liter, ammoniak total maksimal 1 mg/liter. Dalam usaha budidaya minapadi, pakan merupakan komponen biaya terbesar selama pemeliharaan yaitu berkisar antara 80-85 %. Kebutuhan pakan yang berkualitas sangat berpengaruh bagi pertumbuhan ikan. Untuk mendapatkan produk ikan yang memenuhi jaminan mutu dan keamanan pangan, maka pakan ikan yang digunakan harus memiliki nomor pendaftaran/sertifikat yang dikeluarkan oleh Direktur Jenderal Perikanan Budidaya atau surat jaminan dari instansi yang berkompeten.

Pemberian pakan disebarkan secara perlahan untuk memberikan waktu bagi ikan memakan pelet dan pembudidaya dapat melihat kebiasaan makan pada ikan ini. Jumlah pakan yang diberikan sebanyak maksimal 3% dari total biomassa. Penentuan jumlah pakan dilakukan dengan cara sampling yaitu mengambil beberapa ekor ikan dan menimbang bobotnya, sehingga dapat diduga bobot total (biomass). Ikan dapat dipanen dalam waktu pemeliharaan 90-100 hari atau lebih sesuai ukuran yang dibutuhkan oleh konsumem. Biasanya ikan konsumsi dapat dijual setelah mencapai ukuran minimal 100 gram/ekor, tetapi semakin besar ukuran ikan harganya juga semakin tinggi.

Teknik memanen yang sangat mudah dilakukan dengan cara mengeringkan sawah baik beberapa atau menyeluruh. Jika ingin memanen seluruh ikan, maka petakan sawah dapat dikeringkan seluruhnya. Pada waktu pemanenan sebaiknya dimasukkan air segar kedalam petakan sawah dan pemanenan sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari. Air dibuang melewati saluran pembuangan di dalam sawah hingga seluruh ikan dapat mengumpul di dalam kobakan dan selanjutnya ditangkap menggunakan serok.

Abdul Salam Atjo | Penyuluh Perikanan Kab. Pinrang

Unidha IPKANI | Ikatan Penyuluh Perikanan Indonesia | Sekretariat I : Jalan Medan Merdeka Timur No.16 Gambir, Jakarta Pusat Gedung Mina Bahari III Lantai 5 Telp/Fax. (021) 3513328 | Sekretariat II : Ruko Sun City Square Blok H Nomor 5 Jalan Mayor Hasibuan Kota Bekasi Telp.(021) 88868957.
© 2018 Ikatan Penyuluh Perikanan Indonesia (IPKANI) Follow IPKANI : Facebook Twitter Linked Youtube